Catatan Afiqi

"Lihatlah aktivitas air terjun yang selalu deras tiada henti, sederas kita dalam menuntut ilmu sampai mati." (Afiqie Fadhihansah)

Saatnya Mahasiswa Bicara

Dari waktu ke waktu, gerakan mahasiswa memang diukir dalam lintasan sejarah, dengan menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Mereka berontak guna melawan rezim yang timpang di belahan bumi nusantara. Tak peduli, siapa yang melakukan ketidakadilan itu, yang pasti musuh mahasiswa, dan sahabat terdekat mahasiswa adalah rakyat jelata. Lantas, muncul sederetan pertanyaan; sebenarnya gerakan mahasiswa itu berperan sebagai apa? Gerakan politik, moral atau sosial? Atau hanya berkutat di ranah pendobrak semata?

Keberhasilan gerakan mahasisawa, bisa kita ukur dari seberapa banyak pengarahan ide-ide sosial daripada kepentingan politik. Pandangan ini diamini oleh Denny JA, (Kompas 10/09/1989) setidaknya ada tiga pandangan mengenai gerakan ini.

Pertama,
Gerakan sosial itu, dilahairakan oleh kondisi yang memberikan kesempatan (politicl opportunity) bagi gerakan itu sendiri. Pemerintah moderat, misalnya memberikan kesempatan yang lebih besar bagi timbulnya gerakan sosial ketimbang pemerintah yang otoriter.

Kedua, Gerakan sosial karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Perubahan dari msyarakat tradisional ke modern pun dapat mengakibatkan kesenjangan ekonomi yang semakian lebar. Selain itu, dapat menyebabkan kritis identitas dan lunturnya nilai-nilai sosial yang selama ini diagungkan.

Ketiga
, Semata-mata karena masalah kepemipinan (leadershif capability) dari tokoh pengerak. Adalah sang tokoh yang mampu memberikan inspirasi, membuat jaringan, membantu organisasi, yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi terlibat dalam pergerakan tersebut.

Terlebih lagi bila mengacu pada berbagai peristiwa, gerakan mahasisaw memang sangat identik dengan gerakan sosial. Apalagi mahasiswa merupakan calon para politik, sambil mengacu pada Danatella Porta dan Mario Diani (1999), akademisi dari pelbagai latar teritorial dan teoritis berbagai pemahaman yang ada mengenai karakteristik gerakan sosial; Pertama, Aksi bersamanya merupakan hasil dari jaringan intreraksi informal, yang melibatkan keragaman individu, golongan dan kelompok. Satu jaringan yang sanggup mempromosikan kerangka interpretasi (Meaning Sistem Of Meaning) serta sirkulasi sumber daya esensial bagi aksi bersama.

Keempat, Adanya solidaritas dan keyakinan yang sama sebagai sumber dari kehendak dan identitas bersama. Ketiga, Gerakan sosiala meceburkan pada situasi konflik baik sosial, poltitik, budaya, ekonomi, maupun agama dengan konflik hubungan opsional anatar aktor politik yang berusaha mengontrol hal (state). Keempat, Mengadopsi pola-pola ekpresi poltitik yang zalim. Berbeda dengan ekspresi partai tertentu yang struktural, artikulasi, kolektif dari gerakan sosial akan penuh inprovisasi, mempuni, dan batas konvensional.

Selain itu, Ia menambahkan, gerakan sosial harus membumikan kerangka-kerangka—meminjam istilah Eyerman dan Jamison (1991;56); Pertama, Tumbuhnya harus melalui semacam sirkulasi dari tahap persiapan, disusul oleh tahap pembentukan, menuju tahap konsolidasi. Artinya jaringan muncul secar sepontan, tapi memerlukan waktu. Kedua, Tak ada gerakan sisioal berhasil tanpa tersedianya kesempatan politik. Ketiga, Tak hanya dapat hadir, hingga adanya individu yang siap andil memperjuangkan kaum lemah di dalamnya.

Bagi Frans Magniz Suseno, menguarai dari sifat idealisme yang sering melekat pada diri gerakan mahasiswa (Basis No 09-10 Thn Ke-48 Sep-Okt 1999), Ia berkata, idealisme yang tak mau berkompromi dan membuktikan diri dengan kesediaan nyata untuk berkorban; dan seni berpolitik. Tak perlu dua-dua pada aktor yang sama. Kaum terpelajar tak perlu pintar berpolitik, mereka hanya akan lumpuh kalau main politik. Artinya, mereka hendaknya memahami gerakan sosial, tak seluruhnya dianggap gagal bila tujuan maksimal. Tapi keberhasilan mereka baru bersifat pendobrakan--follow up—pada tataran politik guna terlakasana nuansa baru dalam ruang tersebut.

Itulah mengapa, mahasiswa patut memberikan aspirasi dan opini di media massa (khususnya koran) sebagai cerminan bahwa mahasiswa tak hanya pandai demo, anarki, rusuh, namun bisa memberi masukan utuk menciptakan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Semoga kita sebagai mahasiswa harus mengeluarkan ide demi terciptanya tatanan hidup yang sejahtera.

Share this:

MediaIklan


Ingin iklan Anda masuk di website ini? Silakan klik di sini

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment

0 komentar:

Poskan Komentar

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari Anda. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.