Catatan Afiqi

"Lihatlah aktivitas air terjun yang selalu deras tiada henti, sederas kita dalam menuntut ilmu sampai mati." (Afiqie Fadhihansah)

Lunturnya Budaya Salam di Kalangan Pelajar Madrasah

"Sebarkanlah salam, hubungkanlah tali silaturahim, berilah makan dan dirikanlah shalat malam di saat manusia tertidur lelap. Niscaya kalian akan masuk surga dengan damai." (HR Al-Tirmidzi).
Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya saling menebar salam,
mengucapkan salam kepada sesama Muslim, baik yang belum dikenal maupun yang sudah dikenal. Beliau juga mengatakan dalam hadistnya bahwa salah satu syarat agar dapat saling cinta-mencintai adalah dengan menebarkan salam, afsyu al-salam bainakum, demikian ungkap beliau. Dengan kata lain, Nabi SAW memerintahkan umatnya membangun dan menciptakan ''budaya salam'' dalam kehidupan sehari-hari.
Kita dapat merasakan dan membuktikan betapa ucapan, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu memiliki daya magnet yang luar biasa. Tak heran, jika Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya selalu mengucapkan salam secara sempurna, karena hal demikian akan mendapat pahala tiga puluh. Bahkan, secara etika dalam mengucapkan salam Nabi SAW memberikan bimbingan yang sangat konkret.
Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ''Hendaklah orang yang lebih kecil memberi salam kepada yang lebih besar darinya, orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan kaki, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak.'' (Muttafaq 'Alaih).
Semestinya kita selalu bersemangat dalam melakukan kebaikan dan menghidupkan serta menyuburkan sunnah Rasulullah SAW. Menebar salam antarumat muslim adalah salah satu sunnah yang sangat dianjurkan Nabi SAW.
Disisi lain, kita sering menjumpai para pelajar madrasah yang jarang sekali mengucapkan salam ketika hendak bertemu dengan orang lain ataupun ketika hendak masuk ke dalam kelas. Inilah yag menyebabkan ucapan salam di kalangan pelajar madrasah mulai luntur seiring perkembangan zaman. Padahal, madrasah adalah lembaga pendidikan yang lebih mendalami tentang kaidah-kaidah islam, seperti ilmu Fiqih, Qur’an Hadits, Bahasa Arab, Aqidah Akhlaq, dan lain sebagainya. Hal inilah yang melatar belakangi kami untuk mengungkap tentang mulai lunturnya budaya salam di kalangan pelajar madrasah.
Dari pengamatan langsung di lapangan, saya memperoleh data terhadap siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri 3 Kediri bahwa budaya salam di kalangan madrasah sudah mulai luntur. Ini dapat dibuktikan dari sebagian besar siswa-siswi mengatakan bahwa mereka mengucapkan salam hanya kadang-kadang saja. Inilah yang menyebabkan budaya salam mulai luntur saat siswa-siswi jarang sekali mengucapkan salam. Karena ucapan salam hanya diucapkan ketika masuk ke dalam kelas untuk menghormati guru saja, selebihnya tidak.
Penyebab lunturnya budaya salam di kalangan pelajar madrasah yakni budaya salam hanya dilakukan ketika bertemu dengan orang yang dihormati saja, seperti kepala madrasah, guru, dan lain-lain. Selain itu, siswa berpendapat bahwa lunturnya budaya salam dikarenakan pada waktu seminar islami yang diadakan oleh madrasah, para penyaji jarang sekali menyampaikan tentang pentingnya budaya salam. Ini sebabnya siswa-siswi jarang sekali mengetahui makna yang terkandung dan arti penting dalam ucapan salam. Sehingga pengucapan salam di kalangan pelajar madrasah kian jarang terdengar.

Share this:

MediaIklan


Ingin iklan Anda masuk di website ini? Silakan klik di sini

JOIN CONVERSATION

1 komentar:

  1. Hallo Mas, salam kenal juga yah!
    Saya pingin komentar juga neh, mungkin saja, tradisi salam tersebut sulit berkembang pesat dan masif, salah satunya, karena salam tersebut bukan budaya daerah kita sendiri, tapi import dari timur tengah, sehingga banyak dari kita yang kurang mengerti arti, makna, dan manfaatnya. Juga, di lingkungan kita sehari-hari masyarakat bertutur dengan bahasa jawa dan indonesia, sehingga salam Islami tersebut kalau digunakan setiap waktu justru membuat kita terkesan exclusive, karena memakai bahasa asing, belum lagi kita tidak hanya berinteraksi dengan orang Islam saja. Mungkin, kalau kita menggunakan salam ala daerah kita masing-masing akan lebih membumi, erat dan turut melestarikan kebudayaan kita sendiri.

    Trim dan have a great day!

    BalasHapus

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari Anda. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.