Catatan Afiqi

"Lihatlah aktivitas air terjun yang selalu deras tiada henti, sederas kita dalam menuntut ilmu sampai mati." (Afiqie Fadhihansah)

Radar Kediri

Sabtu, 19 April 2008

Teliti Anarkisme, Siswa MAN 3 Kediri Menang di LKTI Se-Jatim

Mural Bisa Mengurangi Keinginan Merusak


Seperti apa anarkisme di lingkungan sekolah? Bagaimana mencegah atau setidaknya meminimalisirnya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijadikan dasar penelitian tiga siswa MAN 3 Kediri, yang akhirnya jadi juara ketiga LKTI se-Jatim.

AHYA ALIMUDDIN, Radar Kediri

Kediri-Trio peneliti dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kediri ini beranggotakan Afiqie Fadhihansah, Jefridin Ma’sum, dan Muhammad Aziz Miftahul Huda. Namun, yang berangkat mengikuti lomba karya tulis ilmiah (LKTI) se Jatim di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang hanya dua orang. Afiqie dan Jefridin saja. Itupun, hanya Afiqie yang mempresentasikan karya tulis mereka. Jefridin kebagian tugas sebagai operator presentasi. Sedangkan Azis, karena pertimbangan biaya dan jatah tampil, tak ikut serta. Ketiga cowok yang tergabung dalam ekstrakurikuler KIR An-Nahl itu sebelumnya juga pernah menyabet gelar juara. Februari lalu, karya penelitian tentang tahu biji trembesi jadi juara dua di LKTIR se Jatim di Universitas Brawijaya.Kali ini, topik yang mereka teliti adalah soal anarkisme di lingkungan sekolah. Pada final 26 Maret lalu, mereka harus berkompetisi dengan 10 kelompok KIR lain. Salah satunya dari sesama sekolah Kediri, SMAN 1. Hanya, kelompok dari SMAN 1 gagal meraih gelar.Ada yang menarik ketika tim ini melewati babak penyisihan. Menyisihkan 48 karya dari tim pesaing lain. Yaitu, sebenarnya Afiqie dkk telat mengirimkan naskah. Makalah berjudul Persepsi Siswa dan Guru Terhadap Tindakan Anarkisme di MAN 3 Kediri tersebut baru dikirim 15 Maret. Sementara, batas akhir pengiriman dua hari sebelumnya. Toh, ketika diumumkan 23 Maret, karya mereka masuk final.Problem keterlambatan adalah mepetnya waktu. Sampai-sampai, penelitian hanya dilakukan tiga hari! Termasuk untuk menyebar angket ke 100 siswa dan 10 guru, melakukan observasi, dan dokumentasi. Apa hasilnya? "Anarkisme menurut siswa dan guru adalah perbuatan yang brutal dan tidak mau diatur," jelas Fiqie, sambil memberi contoh tawuran remaja sebagai satu tindakan anarkisme. Penelitian itu menyebutkan, 44 dari 100 responden pernah melihat atau mendengar tindakan anarkisme di sekolahnya, 27 mengaku jarang, 16 responden menyatakan tak pernah, dan sisanya tidak tahu. Penyebab anarkisme beragam. Bisa karena pergaulan, kepribadian, atau rasa frustasi terhadap sekolah.Tiga peneliti ini kemudian memberi solusi pencegahan. Seperti yang dilakukan di MAN 3 Kediri. Yakni dengan meningkatkan kesadaran dan memperketat tata tertib. Juga memberi penyuluhan tentang perilaku dengan pembicara dari penegak hukum. Para peneliti muda ini juga melihat dampak positif adanya grafiti atau gambar di dinding-dinding sekolah. Pesan-pesan moral dalam mural (nama lain grafiti) itu juga bisa mengurangi niatan melakukan anarkisme. Tapi, 66 persen responden melihat langkah-langkah tersebut belum efektif untuk meminimalisir tindakan anarkis yang terjadi. Responden memberi saran untuk orangtua, khususnya yang melihat anaknya melakukan tindakan anarkis. "Orangtua harus lebih banyak memberikan arahan dan sesekali membatasi ruang gerak anak," tutur Fiqie.Di luar upaya keras mereka melakukan penelitian, sejatinya trio peneliti MAN 3 Kediri tersebut pesimistis bisa merebut satu dari tiga gelar yang disediakan. Bukan hanya persiapan yang mepet, tapi juga saat presentasi mereka sempat terhalang kendala teknis. Saat di sekolah, materi presentasi mereka siapkan dalam format Powerpoint Vista. Ternyata, laptop panitia menggunakan operation system (OS) Windows XP. Karena tak bisa menjalankan programnya, Fiqie dan Jefridin pun tergesa-gesa membuat ulang materi presentasi sesuai OS laptop tersebut. Akibatnya, jatah presentasi yang seharusnya nomor pertama jadi melorot ke nomor lima."Saya sempat nervous. Tapi akhirnya disemangati Jefri," ungkap cowok kelahiran 1992 itu.Tampil selama 15 menit, Fiqie mampu menjawab pertanyaan tiga juri dengan baik. Dalam babak final yang dilangsungkan di auditorium UIN Malang itu, juara pertama diraih SMAN 1 Tuban dan juara kedua disabet wakil SMAN 1 Malang. MAN III memang satu-satunya MA di ajang final kemarin. Selain piagam dan trophi, Fiqie dkk mendapatkan uang pembinaan senilai Rp 500 ribu. "Kami bagi (uangnya). Sisanya buat nraktir teman-teman di KIR," ujar Fiqie. (fud)

Share this:

MediaIklan


Ingin iklan Anda masuk di website ini? Silakan klik di sini

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment

0 komentar:

Poskan Komentar

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari Anda. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.